Minggu, 15 Oktober 2023

Naskah Praktik Baik Inovasi Pembelajaran Berbasis TIK

Penerapan Pembelajaran Berdiferensiasi Pendekatan TPACK Berbantuan MEDPICA Menstimulasi Soft Skill Peserta Didik

A. Situasi

SMP Negeri 1 Toribulu merupakan sekolah berlokasi di jalan Trans Sulawesi. Sekolah ini memiliki berbagai fasilitas seperti laptop, jaringan internet, laboratorium IPA, ruang kelas dan lingkungan sekolah. Artinya, sekolah sudah mempunyai fasilitas yang cukup memadai untuk pembelajaran meskipun jumlahnya masih terbatas. Peserta didik SMP Negeri 1 Toribulu banyak yang memiliki gawai. Berdasarkan wawancara, gawai belum dimanfaatkan secara optimal untuk pembelajaran.

Pendidikan pada abad 21 ditandai dengan adanya perubahan cara belajar, pola pikir dan sikap tindakan peserta didik yang berkualitas dalam mengembangkan inovasi kreatif berbagai bidang serta dapat mengikuti atau mengubah zaman menjadi lebih baik untuk meningkatkan kualitas lulusan sesuai dunia kerja dan tuntutan teknologi digital. Hal ini menunjukkan peserta didik harus memiliki soft skill pada pembelajaran abad 21. Soft skill peserta didik didapatkan dari cara belajar yang disampaikan oleh guru. Menurut Vera dan Mufadhal (2022), pengembangan soft skill sangat dibutuhkan untuk membentuk karakter pada peserta didik disesuaikan dengan kurikulum merdeka belajar pada saat ini.

Soft skill yang dimaksud adalah berpikir kritis (mampu memecahkan masalah), komunikasi, kolaborasi (bekerja sama), dan kreatif. Soft skill inilah yang sering disebut keterampilan 4C yaitu critical thinking, communication, collaboration, creativity. Pencapaian hasil belajar peserta didik dapat dilihat dari sikap spiritual dan sosial, pengetahuan serta keterampilan. Berdasarkan hasil observasi pembelajaran sebelumnya yaitu materi tentang pencemaran lingkungan, peserta didik SMP Negeri 1 Toribulu termasuk memiliki kemampuan soft skill yang rendah sebesar 14% dari jumlah peserta didik kelas 7C setiap indikator.

Hasil refleksi guru dalam melakukan kegiatan belajar mengajar adalah guru belum menerapkan kegiatan pembelajaran yang menyesuaikan perkembangan pembelajaran digital secara tepat sesuai kebutuhan belajar peserta didik. Guru belum memanfaatkan teknologi secara optimal untuk memfasilitasi pembelajaran peserta didik khususnya media pembelajaran berbasis TIK.

 

B. Tantangan

Permasalahan situasi yang telah diuraikan merupakan suatu tantangan bagi seorang guru. Guru harus berperan memodifikasi pembelajaran yang menstimulasi soft skill peserta didik. Menurut Partono, dkk (2021) strategi meningkatkan kemampuan berpikir kritis adalah dengan melatih peserta didik untuk berdiskusi, pada kemampuan komunikasi dapat melalui proses pembelajaran dengan memberikan peserta didik bebas berpendapat dan kemampuan kolaborasi dapat dilatih dengan bekerjasama dalam kelompok serta dalam meningkatkan kemampuan kreatif maka dalam melaksanakan pembelajaran yang inovatif sehingga peserta didik dapat membuat suatu produk yang kreatif dalam pembelajarannya juga. Pemenuhan kebutuhan belajar peserta didik maka guru memiliki tantangan tersendiri menerapkan pembelajaran berdiferensiasi pendekatan TPACK. Pengetahuan yang didapatkan tentang pembelajaran berdiferensiasi ini, tidak terlepas dari memanfaatkan platform merdeka mengajar (PMM). Guru membuat inovasi pembelajaran berdiferensiasi yang memanfaatkan teknologi. Teknologi yang dimaksud adalah guru membuat media pembelajaran interaktif dari canva sehingga disingkat menjadi MEDPICA. MEDPICA inilah merupakan media yang membantu peserta didik lebih memahami materi. MEDPICA yang sudah dibuat dibagikan sebagai referensi bahan ajar pada PMM untuk dimanfaatkan dalam pembelajaran.


C. Aksi

Tahapan aksi yang dilakukan yaitu memberikan asesmen awal kepada peserta didik untuk memetakan kebutuhan belajar peserta didik dan menganalisis strategi diferensiasi, membuat perangkat pembelajaran sesuai kebutuhan belajar peserta didik, membuat media pembelajaran interaktif dari canva (MEDPICA), menerapkan pembelajaran, observasi soft skill peserta didik. Langkah-langkah pembelajaran berdiferensiasi adalah sebagai berikut.

1.    Kegiatan Pendahuluan

a)      Membuka pelajaran dengan salam, menanyakan kehadiran dan menyiapkan peserta didik.

b)      Pemusatan perhatian (motivasi) : guru mengingatkan materi pemanasan global ada kaitannya dengan pembelajaran sebelumnya yaitu pencemaran lingkungan. Guru menampilkan teka teki silang 2 soal.

c)      Apersepsi : guru memberikan kesempatan peserta didik menjawab soal teka teki silang di depan kelas.

d)      Guru menyampaikan tujuan pembelajaran.

2.    Kegiatan inti

    a)    Mengamati

Perwakilan peserta didik mendemonstrasikan peristiwa pemodelan efek rumah kaca.

    b)   Menanya

Melalui pengamatan, guru memotivasi peserta didik untuk bertanya tentang peristiwa efek rumah kaca. Kemungkinan pertanyaan yang muncul adalah apa itu efek rumah kaca? Mengapa terjadi kenaikan suhu secara cepat pada handuk dalam toples? Jika handuk diibaratkan bumi, apa penyebab bumi semakin panas? Mengapa suhu pada kondisi A sebesar 400C sedangkan suhu pada kondisi B sebesar 300C?

c)    Mengumpulkan informasi/Mencoba

Guru melakukan teknik pembelajaran dengan kegiatan think-write-share secara mandiri. (diferensiasi proses)

Guru memberikan peserta didik instruksi dan waktu untuk menuliskan pada stiknote yang dibagikan guru, mengenai apa saja yang mereka ketahui tentang perubahan iklim dan pemanasan global serta efek rumah kaca.

Guru minta semua peserta didik untuk menempelkan apa yang telah mereka tulis pada stiknote di papan tulis. Salah satu peserta didik membacakan review materi yang telah ditulis.

Guru membentuk beberapa kelompok berdasarkan hasil pemetaan kebutuhan belajar. (diferensiasi proses)

Guru menyediakan media pembelajaran MEDPICA dan media penunjang seperti komik, buku dan video. Selain itu guru juga mempersilakan peserta didik untuk mencari sumber belajar lain melalui internet dan sumber lainnya yang relevan. (diferensiasi konten)

Peserta didik mencari informasi melalui literatur yang relevan untuk menjawab LKPD.

        d)   Mengasosiasi

         Guru membimbing masing-masing kelompok dalam berdiskusi menyelesaikan aktivitas pada lembar kerja, serta memberikan perhatian/pembimbingan yang lebih kepada peserta didik yang perlu intervensi khusus. (diferensiasi proses)

    Peserta didik berdiskusi dengan anggota kelompok untuk menentukan bentuk media yang akan dipresentasikan di depan kelas maka peserta didik dapat membuat gambar pada kerta plano, video dan presentasi. (diferensiasi produk)

        e)    Mengomunikasi

  Guru menugaskan presentasi kelompok hasil diskusi di depan kelas sedangkan kelompok lain menanggapi.

    Peserta didik antar kelompok saling bertanya jawab atas presentasi yang disampaikan.

    Guru memberikan umpan balik kepada peserta didik dalam hal proses dan hasil pembelajaran dengan cara memberikan saran-saran mengenai cara peserta didik menyampaikan presentasi.

3.      Kegiatan Penutup

         Peserta didik menyimpulkan kegiatan pembelajaran dibimbing oleh guru.

      Peserta didik menjawab pertanyaan kuis pada Quizizz.

      Guru dan peserta didik melakukan refleksi terhadap seluruh aktivitas pembelajaran yang dilakukan.

    Memberikan tugas ke peserta didik membuat produk lingkungan sekitar dalam upaya mengurangi pemanasan global.

Ricky&Desyandri (2022) menyatakan bahwa penerapan pembelajaran berdiferensiasi dapat meningkatkan keterampilan berfikir kritis peserta didik. Penelitian yang dilakukan menunjukkan salah satu indikator dalam kemampuan keterampilan soft skill. Pada praktik baik ini, indikator yang diperhatikan yaitu berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi dan kreatif. Keterampilan berpikir kritis dilihat dari kemampuan peserta didik bertanya dan menjawab pertanyaan dalam pembelajaran. Keterampilan komunikasi dilihat dari penjelasan berpendapat dengan suara yang jelas. Keterampilan kolaborasi dilihat dari partisipasi dalam diskusi dan presentasi kelompok. Keterampilan kreatif dilihat dari kelancaran menghasilkan gagasan baru.

Berdasarkan hasil observasi pembelajaran biasa diperoleh kondisi awal sebanyak 3 peserta didik yang berani bertanya dan menjawab pertanyaan termasuk dalam indikator berpikir kritis, 3 peserta didik mampu penjelasan berpendapat dengan suara yang jelas, 3 peserta didik mampu berpartisipasi dalam diskusi dan presentasi kelompok dan 3 peserta didik lancar menghasilkan gagasan baru. Rata-rata peserta didik dalam mengikuti pembelajaran hanya itu-itu saja peserta didik yang aktif.

Hasil observasi penerapan pembelajaran berdiferensiasi berbantuan MEDPICA menstimulasi soft skill peserta didik dalam pembuatan prolise menunjukkan sebanyak 16 peserta didik menunjukkan berpikir kritis, 18 peserta didik mampu berkomunikasi, 21 peserta didik mampu berkolaborasi dan 15 yang menunjukkan kreatif. Jumlah keseluruhan peserta didik kelas VII.C sebanyak 21 peserta didik. Adapun hasil penelitian diperoleh perbandingan kondisi awal dan kondisi akhir peserta didik disajikan pada tabel sebagai berikut.



Tabel 1. Kondisi awal dan hasil akhir observasi peserta didik

Data tabel 1 menunjukkan peserta didik terjadi peningkatan kemampuan keterampilan berpikir sebesar 62%, komunikasi meningkat 72%, kolaborasi meningkat 86% dan kreatif meningkat 57% yang artinya penerapan pembelajaran berdiferensiasi berbantuan MEDPICA menstimulasi soft skill peserta didik dalam pembuatan prolise pada pembelajaran IPA SMP Negeri 1 Toribulu. Pembelajaran berdiferensiasi berbantuan MEDPICA pada pelaksanaan praktik baik ini menggunakan aktivitas mengamati kegiatan tentang peristiwa pemodelan efek rumah kaca, kemudian ada peserta didik yang bertanya termasuk “Mengapa terjadi kenaikan suhu secara cepat pada handuk dalam toples dari pada luar toples?”. Hal ini menstimulasi peserta didik untuk berpikir kritis mengenai suatu fenomena dalam kehidupan sehari-hari.

Selanjutnya, pembelajaran dengan kegiatan think-write-share secara mandiri menstimulasi peserta didik komunikasi melalui tulisan tentang perubahan iklim, pemanasan global dan efek rumah kaca yang ditulis dikertas. Kemudian peserta didik belajar dengan media pembelajaran MEDPICA dan media penunjang seperti komik, buku dan video. MEDPICA menstimulasi peserta didik berpikir kritis karena terdapat materi dan kuis. Disamping itu, peserta didik mencari informasi melalui literatur yang relevan untuk menjawab LKPD.

Peserta didik berdiskusi menyelesaikan aktivitas pada lembar kerja dan mempersiapkan bahan presentasi merupakan aktivitas yang dapat menstimulasi berpikir kritis, komunikasi dan kolaborasi dan kreatif. Setelah selesai kegiatan tersebut, presentasi kelompok di depan kelas sedangkan kelompok lain menanggapi juga aktivitas yang dapat menstimulasi berpikir kritis, komunikasi dan kolaborasi dan kreatif. Pada akhir pembelajaran, peserta didik menyimpulkan kegiatan pembelajaran yang diperoleh dan dilanjutkan bermain kuis. Bermain kuis quizizz mengenai pemanasan global tentunya peserta didik antusias untuk menjawab. Soal quizizz mirip dengan soal yang ada dalam MEDPICA. Hasil kuis peserta didik dengan nilai tertinggi 100 dan terendah nilai 80 sedangkan Ketuntasan Belajar Minimal (KBM) IPA adalah 70, artinya seluruh peserta didik tuntas dalam pembelajaran IPA pada materi pemanasan global.

Penerapan pembelajaran berdiferensiasi berbantuan MEDPICA ini memiliki ciri khas pembelajaran yang dikemas menimbulkan efek menyenangkan bagi peserta didik selain itu didesain untuk menstimulasi soft skill peserta didik. Penerapan pembelajaran berdiferensiasi ini diterapkan membutuhkan waktu yang cukup lama karena banyak aktivitas yang dilakukan karena ada tambahan pembuatan produk lingkungan sekitar sehingga pembuatan prolise (produk lingkungan sekitar) ini dibuat pada waktu kegiatan ekstrakurikuler sains club. Prolise yang dihasilkan yaitu totebag ecoprint dengan memanfaatkan bahan sekitar. Totebag dibuat agar berbelanja tidak menggunakan kantong plastik sehingga dapat mengurangi sampah maupun pembakaran yang mengakibatkan pemanasan global semakin meningkat.

 

D. Refleksi

Penerapan pembelajaran berdiferensiasi berbantuan MEDPICA dapat menstimulasi soft skill peserta didik dalam pembuatan prolise karena mendapatkan hasil peningkatan jumlah peserta didik yang berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi dan kreatif. Untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat, setiap indikator soft skill lebih diperbanyak lagi dalam observasi peserta didik karena setiap indikator yang dilihat hanya 1 poin saja. Guru juga dapat menyiapkan media pembelajaran interaktif lainnya di lain materi dalam penelitian yang lebih lanjut.

Daftar Pustaka

Partono, dkk.(2021). Strategi Meningkatkan Kompetensi 4C (Critical thinking, Creativity, Communication & Collaborative). Jurnal Penelitian Ilmu Pendidikan, 14 (1), hlm 41-52.

Ricky&Desyandri. (2022). Implementasi Pembelajaran Berdiferensiasi terhadap Keterampilan Berpikir Kritis Siswa pada Pembelajaran IPA  Kelas VI SD. Jurnal Ilmiah PGSD FKIP Universitas Mandiri, 08 (02), hlm 2944-2960.

Vera&Mufadhal. (2022). Efektifitas Pengembangan Soft Skill  Peserta Didik dalam Berpikir Kritis melalui Kegiatan Ko/Estra Kurikuler di Sekolah. Jurnal Pendidikan Tambusai, 6 (2), hlm 16451-16456.


Link Presentasi Praktik Baik

https://www.canva.com/design/DAFxdwxhtSY/feMp1PbIKRb3-5G4ROkjIw/edit?utm_content=DAFxdwxhtSY&utm_campaign=designshare&utm_medium=link2&utm_source=sharebutton

Link MEDPICA

https://s.id/1U8zG

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbagi dan Berkolaborasi Praktik Baik Penerapan Pembelajaran Inquiry Berbantuan Media Pembelajaran Interaktif dan Wordwall untuk Menguatkan Literasi Digital Peserta Didik

Saya Anis Nur Rosyidah guru IPA SMP Negeri 1 Toribulu merupakan sahabat teknologi Sulawesi Tengah tahun 2024 yang lulus di pembaTIK level 4....